KEPEMIMPINAN BAGIAN PERTAMA

Bismillahirrohmanirrohim……

Kepemimpinan adalah sebuah amanah, hal tersebut akan dimintai pertanggung jawabannya di akhir masa kepemimpinan kita. Tulisan ini dilatar belakangi puluhan kali kegagalan penulis dalam mengemban amanat kepemimpinan. Berikut adalah sebuah cerita yang akan mengawali pembahasan kita tentangnya.

Seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia mengirim putranya pada seorang bijak untuk belajar mengenai kepemimpinan. Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak.
”Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku,” katanya.
Orang bijak menjawab, ”Masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.”
Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak.
”Apa yang sudah kau pelajari?” tanya orang bijak.
”Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,” jawabnya.
”Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?”
”Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,” jawabnya.
”Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah disana satu tahun lagi,” kata si orang bijak.
Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak.
”Apa yang sudah kau pelajari,” tanya orang bijak.
”Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air.”
”Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah memahami hakekat kepemimpinan,” kata si orang bijak seraya memeluk sang putra mahkota.

Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali lebih banyak sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga. Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain.

Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.

Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.

Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ”Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.” Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ”kecepatan cahaya”.

Mari kita simak, beberapa ajaran tersebut di atas dalam Quran dan Hadist, agar kita yakin bahwa di jagad Islam teori itu telah diberikan. Bahkan sejak dari alam ruh, kita sudah dijanji dan berikrar untuk sami’na wa-atho’na – mendengarkanlah dan taatlah.

Sejak dini kita sudah dijanji, sudah diingatkan untuk siap mendengarkan kapan saja, dimana saja dan bagaimana saja keadaannya. Sejak kita baligh, kita sudah dibekali dasar kepemimpinan yang utama yaitu siap mendengarkan. Maka tak salah jika Nabi mengatakan kullukum roin – Kalian semua adalah pemimpin. Pemimpin untuk dirinya sendiri, pemimpin untuk keluarganya dan menjadi pemimpin umat. Jadi tak ada kata tidak siap, tidak mampu dan tidak sanggup. Semua harus sak dermo sebab sejak dari awal mula kita sudah dibekali dasar-dasar kepemimpinan. Permasalahan sebenarnya adalah ketidakmampuan kita untuk mengasah pendengaran kita menjadi lebih tajam.

Di dalam Quran sudah dibeberkan ayat-ayat baik yang memerintahkan sami’na maupun akibat-akibat orang yang tidak mau sami’na. Dan frasa-frasa tersebut telah menunjukkan tidak sekedar sami’na – mendengarkan, tetapi lebih jauh dari itu sami’na dalam arti memperhatikan. Ingatkah kita kalimat sami’na wan’dhurna? Jadi itu semua sudah ada dalam quran dan banyak lagi lainnya, apalagi dalam hadist.

Masih ingatkah kita dengan cerita Dzulyadain? Ketika nabi sholat dhuhur 2 rekaat, semua yang hadir terdiam. Tampillah Dzulyadain membuka percakapan: “Nabi apakah engkau lupa atau ada perkara baru, kok sholat dhuhurnya 2 rekaat?” Kemudian nabi tabayyun; ‘Benarkah apa yang dikatakan Dzulyadain?’ “Benar nabi,” jawab sahabat. Akhirnya Nabi menambah kekurangan sholat tersebut dan mensyukuri apa yang telah diperbuat oleh Dzulyadain. Nabi mau mendengarkan, bahkan dari orang tidak terkenal sekalipun.

Apakah lupa kita, tentang salah seorang sahabat yang kebakaran di bulan ramadhan datang ke depan Nabi? Akhirnya Nabi memberikan sodaqoh padanya bukan menghukumnya. Itulah pelajaran mendengarkan. Sudah lengkap ada semua di kita.

Kemampuan mendengarkan ini sebenarnya dipertegas lagi oleh Allah – Rasul dengan perintah musyawaroh. Selain untuk menyelesaikan persoalan, ajang ini dimaksudkan untuk melatih kemampuan mendengarkan. ”Dan musyawarahlah kalian dengan mereka dalam segala perkara.” “Dan perkara mereka dimusyawarahkan diantara mereka.” “Tidak menyesal orang yang musyawarah.” Dengan banyak mendengarkan berarti memang kita tidak perlu mengalami langsung peristiwa2 yang terjadi, namun dengan mendengarkan telah menstimulan pengalaman itu dari yang mengalami kepada yang mendengarkan. Dengan banyak mendengarkan berarti bersiap dulu, belajar dulu sebelum ujian sebenarnya datang.
Jadi, asahlah terus pendengaran kita, namun jangan mencuri pendengaran alias nguping.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s